MEMBANGUN PERSEPSI POSITIF TERHADAP MENABUNG DI BANK SYARIAH DALAM PERSPEKTIF ISLAM

MEMBANGUN PERSEPSI POSITIF

TERHADAP MENABUNG DI BANK SYARIAH DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Oleh : H. Shofa Robbani, Lc., M.A.[1]

التجريد

ينبغي أن تقوم البنوك الإسلامية على مبادئ الاقتصاد الإسلامي وفقا للشريعة الإسلامية. الإسلام يحرم الربا، ولكن يبرر الزوائد الربحية. وكان النمو السريع في الخدمات المصرفية الإسلامية في إندونيسيا في عشر السنوات الأخيرة لا يستطيع أن يسد هيمنة البنوك التقليدية –في بعض النسخ تسمى بالبنوك الربوية- التي أساسها الربا. وكون أكثر شعب إندونيسيا مسلمين ليس ضمانا لصيرورة البنوك الإسلامية خيارا أساسيا. العوامل الموارد البشرية التي هي المختصة بالمهنية لا يزال غير المثلى في مجال خدمات البنوك الإسلامية وفهم المجتمع المصرفي الإسلامي من متفاوتات التي تكون مثيرة لاهتمام دراستها وبحثها.

لا ينكر أن البنوك الإسلامية ليست مثابة في أصلوبها للبنوك التقليدية. ولكن معظم الناس يعرفون البنوك الإسلامية من ظاهرها بدون فهم ما يتعلق بها. ولأجل ذلك، ليس من المستغرب أن هناك العديد من الذين يعتقدون أن الادخار في البنوك الإسلامية هي بمثابة توفير المال وحفظه في البنوك التقليدية، وكذلك في موضوع اتخاذ التمويل. ويتأثر هذا المنطق أيضا انخفاض مستوى التفاهم في المجتمع الإسلامي في ضوء البنك الإسلامي و عدم فهم اصطلاحات البنوك الإسلامية التي هي غير مألوفة في آذان المسلمين أنفسهم.

قد ثبت في الإسلام أن مفهوم الادخار عدم طلب المكافآت المادية فقط بل لأغراض لاحقة. مثل انقاذ المدخرين مالهم لحوائج أبنائهم الذين سوف يدخلون في الجامعة، أو لتأمينهم وقت الشيخوخة. قد اهتم الشارع المقدس بأن المسلمين لابد لهم أن يستعدوا للزمان القادم، قال النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظهُ: اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْل خَمْس، شَبَابك قَبْل هَرَمك، وَصِحَّتك قَبْل سَقَمك، وَغِنَاك قَبْل فَقْرك، وَفَرَاغك قَبْل شُغْلك، وَحَيَاتك قَبْل مَوْتك. رواه البيهقي. يعني أن هذه الخمس أيام الشباب والصحة والغنى والفراغ والحياة هي أيام العمل والتأهب والاستعداد والاستكثار من الزاد، فمن فاته العمل فيها لم يدركه عند مجيء أضدادها، فمن فرط فيه في حالة الغنى فلم ينل القرب التي لم تنل إلا الغنى لم يدركه في حالة الفقر.

الغنى والثراء هو حلم و فضل من الله تعالى الذي قد وجب لمن وصف به أن يستخدم على سبيل الخير، كأن يخرج وجوبا للزكاة و نفقة العائلة أو مستحبا للإنفاق لليتامى والصدقة للفقراء والمساكين. و ان بقي بعد ما يخرجه وجوبا أو مستحبا فاليدخر ماله، لأن من واظب على الادخار فله التخطيط المالي لانضباط توفير الوسائل المالي للزمان المستقبل. و المعلوم أن للتخطيط المالي توقيع التأمل في تحقيق الهمة التي هي سبب الغني. فمن عرف فن الادخار واستطاع ان يلازمه بعد عدة سنوات كانت له بتوفيق الله عز وجل قادرة على اتيان حوائجه من أمور الدنيا، وسمي حينئذ بأهل الغني والثروة. وهناك أيضا سنة من قبلنا في عهد الرسول يوسف عليه السلام حين أمره الله تعالى ان يدخر ما حصد من زراعتهم سبع سنين دأبا لأجل مجدبات سبع سنين صعاب بعده

Pendahuluan

Kelengkapan agama Islam menjadikan syariahnya sebagai satu-satunya sistem kehidupan yang berasal dari Allah SWT, Pencipta seluruh makhluk, Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui. Ajarannya yang rinci dan lengkap mampu menjawab seluruh persoalan umat manusia sepanjang zaman.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ ((٨٩)

Artinya: dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl. 16: 89). Karena salah satu fungsi Al-Qur’an adalah menjelaskan (menjawab) segala problematika yang ada di hadapan manusia, maka, apabila manusia (termasuk kaum muslimin) mengabaikan peringatan-peringatan dan hukum-hukum Al-Qur’an niscaya yang diperoleh hanyalah kesempitan hidup, kesengsaraan dan kehinaan (Maimoen, 2011: 4)[2]. Allah SWT berfirman :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Artinya: dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. (QS. At-Thaha. 20: 124)

Sebagai penyempurna risalah-risalah agama terdahulu, Islam memiliki syariah yang sangat istimewa, yakni bersifat komprehensif dan universal. Komprehensif berarti syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah), sedangkan universal berarti syariah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai yaum al-hisab (hari kiamat atau hari pembalasan) nanti (Karim, 2010: 5)[3].

Pertumbuhan yang pesat pada perbankan syariah di Indonesia dalam dasawarsa terakhir ternyata belum cukup untuk menghambat laju dominasi perbankan konvensional yang identik dengan praktik riba. Mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam bukanlah jaminan bank syariah menjadi pilihan utama. Faktor sumber daya manusia yang kompeten dan profesional masih belum optimal di perbankan syariah serta pemahaman masyarakat terhadap perbankan syariah yang belum merata menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan diteliti.

Permana dan Purba (2008: 2) menyatakan untuk lebih memberikan pemahaman kepada masyarakat pada umumnya, maupun akademisi dan kalangan perbankan pada khususnya, Bank Indonesia secara berkesinambungan melakukan sosialisasi mengenai perbankan syariah. Upaya untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, tentunya tidak dapat dilakukan hanya oleh otoritas perbankan saja, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama dengan Pemerintah maupun DPR, serta dukungan masyarakat[4].

Minimnya sosialisasi perbankan syariah berakibat pada rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat terhadap perbankan syariah, realita di kalangan masyarakat menunjukkan bahwa tidak semua muslim tahu tentang riba. Hal ini menjadikan pembenaran atas sabda Rasulullah Muhammad SAW. dalam satu Hadisnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ (رواه النسائي)

Artinya: dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW. bersabda, “Suatu saat nanti manusia akan mengalami suatu masa, yang ketika itu semua orang memakan riba. Yang tidak makan secara langsung, akan terkena debunya.” (HR. Nasai, No. 4455). (Nasai, 2008:683)[5]

Struktur pemahaman dan persepsi masyarakat yang sudah terbangun sekian lama terhadap bank konvesional tentu saja tidak mudah untuk diarahkan kepada perbankan yang berasaskan syariah Islam. Tidak dapat dibantah, bahwa bank syariah tidaklah sama dengan bank konvensional. Namun, kebanyakan orang-orang mengenal bank syariah dari kulitnya saja, banyak yang beranggapan bahwa bank syariah sama saja dengan bank konvensional. Maka, tidak mengherankan jika masih banyak yang berpandangan bahwa menabung di bank syariah sama saja dengan menabung di bank konvensional, begitupun mengambil pembiayaan. Hal ini lebih dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pemahaman di lingkungan masyarakat Islam sendiri terhadap perbankan syariah, serta masih banyak istilah-istilah yang unfamiliar di telinga umat Islam sendiri. Keadaan ini benar-benar sangat disayangkan, karena secara sistematika, bank syariah memiliki keunggulan yang banyak dibandingkan bank konvensional, baik dalam penerapan spiritual maupun penerapan rasional. Keunggulan-keunggulan tersebut, sebenarnya dapat dijadikan sebagai alasan oleh umat Islam untuk memilih bank syariah yang berasaskan syariah Islam.

Persepsi Masyarakat Terhadap Menabung di Bank Syariah

Menurut Kotler dan Keller dalam Dhurandhoro (2012: 21-22) pengertian persepsi adalah proses seseorang dalam memilih, mengorganisasi dan menafsir stimuli yang dilakukan seseorang agar mempunyai arti tertentu. Stimuli adalah fisik, visual, dan komunikasi verbal yang dapat mempengaruhi respon dari seseorang. Persespi tersebut tidak hanya bergantung pada stimuli fisik tetapi juga hubungan stimuli tersebut dengan kondisi di sekitar kita. Persepsi terhadap suatu produk terbentuk melalui produk itu sendiri beserta komponennya (kemasan, bagian produk, bentuk fisik suatu produk) yang biasa disebut stimulus primer, serta komunikasi yang ditujukan untuk mempengaruhi perilaku konsumen yang menjelaskan produk melalui kata-kata, gambar, dan simbolisasi atau melalui stimuli lain yang diasosiasikan dengan produk (harga, tempat penjualan, dampak dari tenaga penjual)[6].

Pemahaman terhadap ekonomi Islam merupakan suatu keharusan, Al-Ghazali (2004: 1/33) dalam buku karya monumentalnya yang diberi nama Ihya’ ‘Ulumuddin mengatakan: seorang pedagang yang berada di lingkungan yang marak praktek riba, wajib baginya untuk belajar ekonomi Islam agar terhindar dari riba[7].

Pada dasarnya, Islam keberatan pada sistem perbankan konvensional. Hal ini bermula dari sebuah pemahaman bahwa bunga bank sama dengan riba dalam pelarangannya, selain juga sistem operasional perbankan konvensional yang tidak Islami dalam kegiatan usahanya. Kegiatan ini meliputi penyaluran dana untuk bisnis barang dan jasa yang melanggar hukum Islam, kegiatan spekulatif (maysir), porsi pembagian keuntungan yang tidak adil bagi pemberi pinjaman dan peminjam (Jahala), dan kontrak yang tidak pasti (Gharar) (Iqbal, 1997: 42)[8].

Tabel Perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional

Bank Syariah Bank Konvensional
1.   Melakukan investasi yang halal saja2.   Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli atau sewa3.   Berorientasi pada profit dan falah4.   Hubungan dengan nasabah dalam bentuk kemitraan5.   Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional 1.   Investasi yang halal dan haram2.   Memakai perangkat bunga3.   Berorientasi pada profit4.   Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan debitor-kreditor5.   Tidak terdapat dewan sejenis

Wibisana dkk. (1999) dalam studi yang dilakukan atas kerjasama antara Centre for Business and Islamic Economics Studies (CBIES) Fakultas Ekonomi Unibraw dengan Bank Indonesia Pusat menemukan sebuah gambaran tentang persepsi masyarakat terhadap bank syariah. Namun demikian, persepsi masyarakat tentang bunga hanya merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi preferensi masyarakat terhadap bank syariah itu sendiri. Masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat Islam juga terlihat dari belum banyaknya masyarakat muslim yang mengakses layanan perbankan syariah dibandingkan layanan perbankan konvensional, kalaupun ada, sebagian besar menganggap itu hanyalah alternatif kedua setelah perbankan konvensional[10].

Strategi kebijakan perbankan syariah untuk masa yang akan datang perlu difokuskan pada upaya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai produk, mekanisme, sistem dan seluk-beluk perbankan syariah. Karena, pemahaman yang baik tentang perbankan syariah akan memunculkan persepsi yang baik pada bank syariah, dan persepsi yang baik pada bank syariah akan mendorong seseorang untuk menjatuhkan pilihannya pada bank syariah tersebut. Sehingga, kalau banyak yang memahami bank syariah secara baik, tidak mustahil pertumbuhan bank syariah ke depan akan semakin meningkat dan menjadikannya sebagai pilihan utama dalam menabung atau mengambil pembiayaan.

Menabung di Bank Syariah Sebagai Bagian Konsep Kaya dalam Perspektif Islam

Tabungan merupakan salah satu instrumen bank untuk menghimpun dana. Tabungan menurut definisi BI (Bank Indonesia, 2008: 6) adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet dan giro, dan alat lainnya yang dipersamakan dengan itu[11]. Namun terdapat perbedaan antara tabungan di bank konvensional dengan tabungan di bank syariah seperti terlihat pada tabel berikut ini:

Tabungan di Bank Konvensional Tabungan di Bank Syariah
Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Simpanan berdasarkan Akad wadi’ah atau Investasi dana berdasarkan Akad mudharabah atau Akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat dan ketentuan tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro, dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Sumber: (Bank Indonesia: Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, 2008: 6 dan Bank Indonesia: UU. RI. No. 21 Tahun 2008: 5)[12]

Dalam pandangan hukum fikih, simpanan uang (giro, deposito dan saving) yang biasanya digunakan bank untuk mencari laba, lalu bank berjanji mengembalikan uang tersebut saat diminta nasabah itu hal yang berbeda dengan titipan. Transaksi titipan bukan menjadi tujuan dalam transaksi simpanan perbankan, karena hakikat akad titipan adalah perwakilan untuk menjaga suatu harta. Berikut ini adalah definisi para ulama tentang transaksi titipan (‘aqd al-wadi’ah): (Ash-Shawi, 2008: 337-338):

توكيل على مجرد حفظ المال أو استنابة في حفظ المال

  1. Suatu perwakilan untuk sekedar menjaga harta, atau pendelegasian dalam menjaga harta (definisi ulama Maliki).

تسليط الغير على حفظ المال

  1. Memberikan otoritas pada orang lain untuk menjaga harta (definisi ulama Hanafi).

توكيل رب المال في حفظه تبرعا من الحافظ

  1. Suatu perwakilan dari pemilik harta untuk menjaga hartanya pada penjaga sebagai perbuatan sukarela (amal kebaikan) dari penjaga (definisi ulama Hanbali).

اسم لعين يضعها مالكها أو نائبه عند آخر ليحفظها

  1. Nama untuk suatu barang yang diletakkan pemiliknya atau wakil pemilik pada orang lain, agar ia menjaganya (definisi ulama Syafi’i)[13].

Ketidakpastian keuntungan yang diperoleh Perbankan Islam, menimbulkan perilaku penabung dalam bank syariah mengacu juga pada perilaku ekonomi secara umum, yakni pertimbangan perolehan keuntungan adalah hal yang paling penting dalam keputusan menabung. Jika perilaku mereka mengacu pada keuntungan (homo-economicus), pastinya mereka akan mencari yang memberi keuntungan lebih besar, sedangkan apabila tingkat keuntungan dalam perbankan Islam dan konvensional adalah sama, maka penabung harus memutuskan apakah memilih perbankan Islam atau memilih yang konvensional.

Dalam ajaran Islam, konsep menabung bukan untuk mencari imbalan materi, melainkan menyimpannya untuk keperluan di kemudian hari. Penabung menyimpan uang dengan berbagai alasan, semisal untuk keperluan anak mereka yang akan masuk perguruan tinggi beberapa tahun ke depan, atau sebagai jaminan hari tua beberapa dekade ke depan. (Mankiw, 2006: 84)[14]. Islam mengajarkan umatnya agar selalu mempersiapkan diri untuk menyambut hari esok. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda:

أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظهُ: اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْل خَمْس، شَبَابك قَبْل هَرَمك، وَصِحَّتك قَبْل سَقَمك، وَغِنَاك قَبْل فَقْرك، وَفَرَاغك قَبْل شُغْلك، وَحَيَاتك قَبْل مَوْتك. رواه البيهقي

Artinya: “Gunakanlah (sebaik-baiknya) lima perkara sebelum datang lima perkara lain, yaitu: masa mudamu sebelum datang masa tuamu; masa sehatmu sebelum datang waktu sakitmu; masa kayamu sebelum jatuh miskin; waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu; dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Baihaqi). (Al-Baihaqi, 1985: 498)[15]

Hadis di atas menjelaskan tentang pesan Nabi Muhammad SAW kepada seluruh umatnya agar benar-benar memanfaatkan dan mendayafungsikan lima hal sebelum kedatangan lima lainnya. Kekayaan juga merupakan anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang harus digunakan dan dinafkahkan sesuai dengan kehendak Sang Pemberi kekayaan itu. Jangan sampai kita berlebih-lebihan, apabila kita sudah menyalurkan yang wajib (memberi nafkah keluarga, zakat, dll.), maka, hendaklah sisanya ditabung untuk kepentingan hari esok atau disedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin, anak-anak yatim dan segala yang memperjuangkan agama Islam.

Negara-negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam saat ini masih banyak yang berada pada garis kemiskinan. Padahal, Rasulullah Muhammad SAW sudah memberikan teladan bagaimana cara mensejahterakan umat dengan peletakan dasar-dasar Sistem Keuangan Negara yang telah beliau tetapkan semasa menjadi kepala negara di Madinah. Hal ini merupakan langkah yang signifikan, sekaligus brilian dan spektakuler pada masa itu, sehingga Islam sebagai sebuah agama dan negara dapat berkembang dengan pesat dalam jangka waktu yang relatif singkat (Karim, 2010: 27)[16]. Sebuah Hadis mengatakan:

عن ابن عمر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال “اليد العليا خير من اليد السفلى فاليد العليا هي المنفقة والسفلى هي السائلة” (رواه البخاري)

Artinya : Dari Ibnu Umar RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, tangan di atas adalah orang yang bersedekah (orang yang punya harta atau kaya) dan tangan di bawah adalah peminta” HR. Bukhari. (Al-Asqalani, 2005: 4/253)[17]

Hadis di atas menjelaskan keutamaan menjadi orang kaya, anjuran ini bukannya tanpa alasan, karena hampir semua dasar (rukun) agama Islam itu memerlukan harta, seperti perintah berzakat harus kaya, perintah haji harus dapat dilakukan dengan harta yang banyak. Sholat pun perlu uang, minimal untuk membeli kain penutup aurat, puasa juga perlu uang untuk sahur dan berbuka. Bahkan dalam satu Hadis dikatakan:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم لا صدقة إلا عن ظهر غنى(رواه البخاري)

Artinya: Dari Abu Huraira RA. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tidak ada sedekah kecuali dari orang yang sudah terpenuhi kebutuhannya (kaya)” (HR. Bukhari) (Al-Asqalani, 2005: 4/254)[18]. Makna yang tersirat dari Hadis ini adalah harta yang akan kita sedekahkan haruslah berasal dari kelebihan dari kebutuhan pokok kita, keluarga dan hutang-hutang kita.

Banyak perintah Al-Qur’an dan Hadis Nabi yang menyerukan umat Islam untuk menjadi kaya dengan bekerja keras, tanpa melihat pekerjaannya, yang penting halal. Rasulullah SAW sangat mendorong setiap muslim untuk bekerja (Al-Mishri, 2006: 10)[19]. Atas keutamaan bekerja, Rasulullah SAW bersabda:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : “ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده وإن نبي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده”. رواه البخاري

Artinya: “Tidaklah memakan seseorang atas suatu makanan yang lebih baik dari apa yang ia makan atas hasil kerja tangannya, sesungguhnya Nabi Allah Daud AS. makan dari apa yang dihasilkan dari tangannya”. (HR. Bukhari No. 2072) (Al-Bukhari, 1979: 2/80)[20]. Namun demikian, perdagangan adalah jenis pekerjaan yang paling thayyib (baik).

رافع بن خديج قال قيل: يا رسول الله أي الكسب اطيب؟ قال عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور

Artinya: dari Rafi’ Ibn Khadij berkata; sesorang bertanya pada Nabi, jenis penghasilan mana yang terbaik. Nabi menjawab, “Hasil kerja seseorang dengan tangannya sendiri dari setiap transaksi perdagangan yang disetujui”. (HR. Ahmad No. 17198) (Hanbal, 1995: 13/322)[21]

Sudah umum dikenal bahwa perdagangan merupakan induk keberuntungan. Ia berkedudukan lebih tinggi dibanding industri, pertanian dan jasa. Sejarah bangsa-bangsa di dunia juga memperlihatkan bagaimana dengan berdagang dan berniaga, orang bisa menjadi kaya dan bangsa-bangsa mendapatkan wilayah yang sangat luas di seluruh dunia ini. Dengan demikian, perdagangan merupakan pertanda baik dan kesejahteraan yang akan menjadi tulang punggung untuk memperoleh kekayaan (Afzalurrahman, 1997: 26-27)[22]. Dalam Al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, Al-Iraqi membawakan Hadis Rasulullah SAW,

عليكم بالتجارة فإن فيها تسعة أعشار الرزقة

Artinya: “Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki”. (Al-Iraqi, 2000: 2/79)[23]

Selain berdagang, salah satu cara agar menjadi orang yang kaya adalah dengan menabung, karena seseorang yang disiplin menabung berarti mempunyai perencanaan keuangan bagi masa depan mereka. Perencanaan keuangan berarti ada harapan-harapan yang ingin dicapai dalam kehidupan mereka termasuk menjadi orang kaya. Ada satu kepastian bahwa anjuran menabung ini sudah ada sejak zaman Nabi Yusuf AS. tertulis di dalam Al-Qur’an pada surat Yusuf

Artinya: 46. (setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf Dia berseru): “Yusuf, Hai orang yang Amat dipercaya, Terangkanlah kepada Kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”47. Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; Maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. 48. kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang Amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. (QS. Yusuf. 12: 46-48)

Salah satu pelajaran yang dapat kita petik dari kisah Nabi Yusuf ini adalah kehidupan yang kita lalui di dunia tidak selalu indah. Adakala kita bisa bersenang-senang, hidup berkecukupan, namun kadang pula kita mengalami masa sulit, dimana kita mengalami hal-hal yang di luar dugaan dan di luar kemampuan finansial kita. Oleh sebab itu, Allah SWT sudah memberikan sebuah pelajaran melalui kisah Nabi Yusuf agar umatnya tidak mengalami masa-masa sulit seperti yang dikisahkan tersebut di atas dengan jalan menabung. Baik menabung di bank atau di tempat yang aman dan sesuai dengan syariah Islam.

Kesimpulan

Sudah merupakan tuntutan zaman yang serba ingin cepat dan instan, membuat banyak hal yang dulunya jelas menjadi kabur, termasuk praktik bunga yang hukumnya haram dan bagi hasil yang halal, antara sistem bank konvensional yang menggunakan riba dan bank syariah yang bebas riba. Rendahnya persepsi positif yang terbangun selama ini di sebagian besar masyarakat terhadap menabung di bank syariah juga lebih dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pemahaman masyarakat terhadap bank syariah itu sendiri, ditambah kebijakan bank-bank syariah yang masih menggunakan sistem yang sama (benchmark) dengan bank konvensional, faktor lain adalah kurangnya sosialisasi tentang keunggulan produk perbankan syariah yang bebas riba dan porsi bagi hasil yang lebih adil, kalaupun ada, porsinya masih sangat kecil bila dibandingkan dengan bank konvensional. Sehingga menabung di bank syariah atau di bank konvensional oleh mereka dianggap sama saja. Kalau sudah begini yang terjadi, maka faktor yang lebih menguntungkan secara ekonomi, seperti tingginya reward yang diperoleh, akan menjadi penentu bagi masyarakat antara memilih menabung di bank syariah atau bank konvensional.

Tuntunan Islam hadir sebagai solusi, bukan pembuat masalah. Dalam hal ini, hikayat kaum Nabi Yusuf as. perihal perintah untuk menyimpan hasil panen selama tujuh tahun sebagai bekal mereka ketika menghadapi tahun-tahun selanjutnya yang serba sulit, bisa dijadikan suri tauladan bagi kita agar menabung untuk bekal esok hari. Dan tentunya menabung haruslah di tempat yang dianggap sudah sesuai dengan syariat Islam yaitu di bank syariah. Mayoritas masyarakat modern selalu berfikir bahwa hidup adalah untuk saat ini, padahal seharusnya umat Islam mempunyai cara pandang yang jauh melebihi umat lainnya. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mempersiapkan hari esok, sebagaimana yang tercantum di dalam surat Al- Hasyr ayat 18 yang berbunyi:

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Memang secara kontekstual ayat ini menyatakan bahwa hari esok adalah hari akhirat, namun kalau kita mengambil maknanya dari sisi ilmu ekonomi maka ayat ini menganjurkan kita untuk juga mempersiapkan segala sesuatu untuk hari esok termasuk dana, dan salah satu cara untuk menghadapi kehidupan di hari esok adalah dengan menabung, karena setiap orang yang rajin menabung maka ia mempunyai perencanaan keuangan untuk masa depannya termasuk harapan menjadi orang kaya.

 

Referensi

[1] Penulis adalah dosen tetap Prodi Muamalah Fakultas Syariah IAI Sunan Giri Bojonegoro, Jawa Timur. Alumnus S1 Fak. Syaria’ah Islamiyah al-Azhar Kairo, Mesir dan S2 Ekonomi Islam Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

[2] Maimoen, M. Najih., 2011, Ancaman Liberalisme, Salafi-Wahabi, Sekularisme Terhadap Eksistensi Ahlussunnah Wal-Jama’ah, Rembang: Maktabah Al-Anwar. Cet. 4

[3] Karim, Adiwarman A., 2010, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: Rajawali Pers

[4] Permana, Arief R. dan Purba, Anton., 2008, Sekilas Ulasan Undang-undang Perbankan Syariah, Buletin Hukum Perbankan Dan Kebanksentralan, Vol. 6, No. 2. Hal. 1-12

[5] Nasai, Ahmad Bin Syuaib., 2008, Sunan an Nasai, Riyadh: Maktabah al Ma’arif

[6] Dhurandhoro, Dharana., 2012, Analisis Posisi 7 Eleven Dibandingkan Pesainganya Dengan menggunakan Pemetaan Persepsi, Tesis: Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

[7] Al-Ghazali, Abu Hamid., 2004, Ihya’ ‘Ulumuddin, Beirut Lebanon: Dar wa Maktabah al Hilal.

[8] Iqbal, Zamir., 1997, Islamic Financial System, Finance and Development, Vol. 34, No. 2, Hal. 42-45

[9] Antonio, M. Syafi’i., 2001, Bank Syari’ah Dari Teori Ke Praktek, Jakarta: Gema Insani

[10] Wibisana, M. Jusuf., Triyuwono, Iwan., Nurkholis., Yustika, A. Erani., 1999, Studi Pendahuluan Persepsi Masyarakat tentang Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah, Malang: Studi tersebut dilakukan atas kerjasama antara Centre for Business and Islamic Economics Studies (CBIES) Fakultas Ekonomi Unibraw dengan Bank Indonesia Pusat.

[11] Bank Indonesia., 2008, Undang-undang Republik Indonesia No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, Jakarta: Bank Indonesia

[12] Bank Indonesia., 2008, Kodifikasi Produk Perbankan Syariah, Jakarta: Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia

[13] Ash-Shawi, M.Shalah M., 2008, Problematika Investasi Pada Bank Islam: Solusi Ekonomi Islam, Jakarta: Nusantara Intikarya Pratama. Cet. 1

[14] Mankiw, N.Gregory., 2006, Pengantar Ekonomi Makro Edisi 3, Jakarta: Salemba Empat

[15] Al-Baihaqi, Ahmad Bin Husein., 1985, Al Adab, Beirut Lebanon: Dar al Kotob al Ilmiyah.Cet. 1

[16] Op-cit

[17] Al-Asqalani, Ibnu Hajar., 2005, Hadyu as Sari: Muqaddimah Fathu al Bari, Riyadh: Dar at Thaibah

[18] Ibid

[19] Al-Mishri, A.Sami’., 2006, Pilar-pilar Ekonomi Islam (terjemahan dari Muqawwimat al Iqtishad al Islami), Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. 1

[20] Al-Bukhari, A.T.Siddiq., 1999, Fathu al Bayan fi Maqasi Al Qur’an, Beirut Lebanon: Dar al Kotob al Ilmiyah. Cet. 1

[21] Hanbal, Ahmad Bin., 1995, Al Musnad lil Imam Ahmad Bin Hanbal, Cairo: Dar al Hadis. Cet. 1

[22] Afzalurrahman., 1997, Muhammad Sebagai Seorang Pedagang (diterjemahkan dari buku: Muhammad: Encyclopedia of Search Volume II buku ke tiga, Afzalurrahman (ed.) London: The Muslim Schools Trust, 1982), Jakarta: PT Intermasa

[23] Al-Iraqi, Abd. Rahman Bin Husein., 2000, Al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, Beirut Lebanon: Dar Shadir. Cet. 1

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*